Thursday, April 20, 2006

Pengertian Adat

1. ARTI ADAT

Kalau orang Minang ditanya adat itu apa, maka jawabannya sederhana saja. Peraturan hidup sehari-hari. Kalau hidup tanpa aturan bagi orang Minang namanya "tak beradat". Jadi aturan itulah adat, dan adat itulah yang jadi pakaiannya sehari-hari. Karena itu bagi orang Minang; duduk tagak beradat, makan minum beradat, berbicara beradat, berjalan beradat, menguap beradat dan batuk saja pun bagi orang Minang beradat. Aturan-aturan itu biasanya disebutkan dalam bentuk Pepatah-petitih, mamang dan bidal serta pantun. Contoh beradat itu misalnya :

Batanyo lapeh orak (lepas-lelah), Barundiang sudah makan
Artinya : Kalau ingin bertanya kepada seseorang, tunggulah terlebih dahulu sampai yang bersangkutan hilang lelahnya.

Kalau ada tamu, orang Minang biasanya langsung menyuguhkan minuman. Sesudah rasa haus dan dahaga hilang, barulah ditanya apa maksud kedatangannya. Begitu pula kalau kita kedatangan rombongan tamu yang tujuannya sudah diketahui terlebih dahulu, misalnya untuk merundingkan pelaksanaan perkawinan maka tamu-tamu setelah diberi minum, kemudian diajak makan terlebih dahulu (biasanya makan malam). Setelah selesai makan malam, barulah diajak berunding mengenai pelaksanaan pekerjaan dan sebagainya. Beginilah kira-kira aturan yang dipakai dalam hal "bertanya" dan "berunding" menurut adat Minang.

Contoh lain misalnya :
Bajalan ba nan tuo, Balayia ba nankodoh
Artinya : kalau kita mengutus suatu rombongan untuk berkunjung kepada keluarga lain guna menyampaikan hajat misalnya untuk meminang, atau bahkan untk melakukan perjalanan jauh misalnya; harus ada "Pimpinan" sebagai kepala rombongan.
Pimpinan itulah yang akan jadi "Pembicara" maupun menjadi Pemandu bagi semua pengikutnya atau rombongan itu. "Tuo" disini artinya orang yang sudah dianggap mengerti adat-istiadat kaumnya sendiri dan lebih-lebih sudah mengerti adat-istiadat orang lain yang akan didatanginya.

Jadi orang yang ditunjuk sebagai pemimpin rombongan ini adalah orang yang arif dan bijaksana sepanjang pengertian adat.
Orang yang arif dan bijaksana menurut adat istiadat sebagai berikut :
Nan tahu condong ka maimpok
Nan tahu lantiang ka manganai
Nan tahu jo ereng jo gendeng
Nan tahu jo baso basi

Tahu dibayang kato sampai
Alun bakilek lah bakalam
Salayang ikan dalam aia
Lah jaleh jantan batinonyo.

Begitu juga dengan pengertian "Balayia ba nankodoh".
Yang harus dijadikan kepala rombongan itu haruslah orang yang sudah banyak makan garamnya penghidupan (pengalaman).
Tahu di angin na basiru
Tahu jo lauik nan sadidih
Tahu di karang nan balungguak
Tahu jo ombak nan badabua

2. TUJUAN ADAT

Kita tidak akan mengaji lebih dalam HIKMAH yang terkandung dalam setiap aturan itu, sebab apapun hikmah yang kita dapat, semuanya bermuara pada suatu kata kunci yaitu membentuk individu dan masyarakat yang berbudi luhur, apakah itu adat Jawa, adat Batak, adat Sunda, adat Minang muaranya atau tujuannya akhirnya sama. Yang berbeda hanyalah caranya sesuai dengan ajaran adat yang dianutnya.
Konsekuensi dari rumusan ini adalah bilamana terjadi suatu cara yang berbeda antara kita dengan suku lain, maka janganlah cepat mengatakan orang "tak beradat". Yang benar adalah "adatnya" yang berbeda dengan adat kita.

3. KLASIFIKASI ADAT

Sebagai perbandingan dapat kita lihatkan perbedaan BUDAYA antar bangsa. Orang Barat/Indonesia umumnya menganut paham "LADY FIRST", Bundo Kanduang yang utama, tapi orang Jepang menganut paham Kesatria, OTOKO NO ICHIBAN, prialah yang nomor satu.
Karenanya kalau naik mobil wanitalah yang naik kemudian, pria Jepanglah yang naik duluan. Kita jangan tersinggung melihat adegan yang demikian.
Begitu juga orang Minang kalau makan, Bapak-bapaknya dulu, "kami bialah kudian" kata ibu-ibu, tapi di tempat lain adalah "Lady First". Dalam hal yang demikian ini Adat Minangkabau mengajarkan :
Lain padang lain belalang
Lain lubuk lain ikannya.

Di sini kita akan menunjukkan bahwa "Adat Minang" sebenarnya tidak pernah komplikasi dengan adat lain manapun apalagi akan berkonfrontasi, sebab adat Minang mempunyai daya lentur yang amat tinggi yang memungkinkan ia hidup berabad-abad lamanya sampai sekarang. Namun demikian daya lentur (fleksibilitas) adat Minang itu mempunyai klasifikasi tersendiri, mulai dari yang agak kaku (rigid) sampai pada yang sangat luwes. Daya lentur ini dapat dilihat dari pembagian adat Minang yang dibagi 4 (empat) sebagai berikut :

a. Adat nan Saban Adat
Yang dimaksud dengan "adat sabana adat" adalah "Aturan Pokok dan Falsafah" yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa pengaruh oleh tempat, waktu, dan keadaan, sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat :
Nan indak lakang dek paneh
Nan indak lapuak dek hujan
Paling-paling balumuik dek cindawan

"Adat nan Sabana Adat" ini merupakan Undang-undang Dasarnya Adat Minang (UUD-ADAT) yang tak boleh diubah. "Adat nan Sabana Adat" ini pada dasarnya berlaku umum di seantero "Ranah Minang" baik Luhak nan Tigo maupun di rantau.
Yang termasuk dalam ADAT NAN SABANA ADAT ini adalah :
1. Silsilah keturunan menurut jalur garis ibu yang lazim disebut garis keturunan Matrilinial.
2. Perkawinan dengan pihak luar pesukuan yang lazim dikenal dengan tata perkawinan Eksogami, dan suami yang bertempat tinggal dalam lingkungan kerabat isteri yang disebut Matrilocal
3. Harta pusaka tinggi yang turun temurun menurut garis ibu dan menjadi miliki bersama "sejurai" yang tidak boleh diperjual belikan, kecuali punah.
4. Falsafah "alam takambang jadi guru" dijadikan landasan utama pendidikan alamiah dan rasional dan menolak pendidikan mistik dan irrasional (takhyul).
Keempat hal tersebut diatas menurut kami termasuk dalam klasifikasi "adat nan sabana adat" yang daya lenturnya sangat kuat dan sulit digoyahkan. Tapi kalau sampai goyah, seluruh adat Minang pun akan rusak karena ke 4 hal tersebut di atas Tonggak Tuonya adat Minang.

b. Adat nan Diadatkan
Yang dimaksud dengan "Adat yang Diadatkan" adalah "Peraturan Setempat" yang diambil dengan kata mufakat, ataupun kebiasaan yang sudah berlaku umum dalam "suatu nagari".
Perubahaan atas "Peraturan setempat" ini hanya dapat dilakukan dengan permufakatan pihak-pihak yang tersangkut dengan Peraturan itu sesuai dengan pepapatah :
Nan elok dipakai jo mufakat
Nan buruak dibuang jo hetongan
Adat habih dek bakarilahan
Adat nan diadatkan ini dengan sendirinya hanya berlaku dalam "satu nagari" dan karenanya tak boleh dipaksakan untuk juga berlaku umum di "nagari" lain. Yang termasuk dalam "Adat yang Diadatkan" ini antara lain mengenai tata cara, syarat-syarat dan upacara Pengangkatan Penghulu; tata-cara, syarat-syarat dan upacara Perkawinan, yang berlaku dalam tiap-tiap nagari.

c. Adat nan Teradat
Yang dimaksud dengan "Adat nan Teradat" adalah kebiasaan dalam kehidupan masyarakat yang boleh ditambah atau dikurangi dan bahkan boleh ditinggalkan, selama tidak menyalahi "landasan berpikir" orang Minang yaitu alua-patuik raso-pareso; anggo-tanggo dan musyawarah. "Adat nan Teradat" ini dengan sendirinya menyangkut pengaturan tingkah laku dan kebiasaan pribadi orang perorangan, seperti tata-cara berpakaian, makan minum dan seterusnya.
Dahulu misalnya para pemuda di kampung biasa memakai kain sarung; kini sudah terbiasa memakai celana; malah sudah dengan Blue-Jeans. Dulu stiap Muslim Minang pulang haji pakai saroban, sekarang sudah biasa pakai peci, malah sering tanpa tutup kepala. Dulu orang Minang, biasa makan dengan tangan-telanjang, kini sudah biasa pula memakai sendok garpu. Perubahan tata cara ini dianggap tidak melanggar adat.

d. Adat Istiadat
Yang dimaksud dengan Adat Istiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu nagari yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat.
Kelaziman ini pada umumnya menyangkut pengejawatahan unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara keramaian anak nagari, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung.
Adat istiadat semacam ini sangat tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik biasanya megah meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya.
Disamping pembagian 4 tingkat adat diatas, masih ada satu pengaturan adat yang bersifat khusus dan merupakan ketentuan yang berlaku umum, baik di ranah maupun di rantau.
Pengaturan itu adalah apa yang dikenal dengan Limbago Nan Sapuluah yang menjadi dasar dari Hukum Adat Minang.
Yang termasuk dalam Limbago nan Sapuluah ini adalah "Cupak nan Duo"; Undang nan Ampek dan Kato nan Ampek; yang menjadi patokan hukum yang berlaku di seantero ranah Minang.

Oleh : Amir M.S.
Disadur Oleh : Erwin Moechtar dari Buletin Sungai Puar No. 26 Juli 1988

Wednesday, April 19, 2006

Indak Baguno (Mubasie)

Manang indak kamanarimo
Kalah indak kamambaie
Masuak tak ganok
Kalua tak ganjie
Masuak di talingo suok
Kalua di talingo kida

Pai ampok pulang aban
Masuak hawo kalua angin
Masuak ampek kalua limo
Bak antimun bungkuak dalam karuang
Indak masuak dalam etongan

Bak mangandakkan cirik harimau
Nan tagantuang diikuenyo
Mangandakkan tanduak ka kudo
Mangandakkan kuah ka pangek

Manyalang sanjato di paparangan
Mintak tolong di panyamunan
Baraja dalam baparang
Pandeka dalam bamusuah

Managakkan sumpik indak barisi
Managakkan banang basah
Mambasuah muko jo aie liue
Mambasuah arang di kaniang

Kecek bak katiak ula
Kecek bunyi marandang kacang
Manggantang asok maukie langik
Maranangi lauik lapeh

Mabuak di angan-angan
Tak baban batu digaleh
Sarueh tabu dek ulek
Kasabatangannyo dibuang
Umue habih indak bajaso
Sio-sio utang tumbuah
Tuah dihajan cirik tapanca
Arang habih basi binaso
Minyak abih samba tak lamak
Kalah jadi abu
Manang jadi baro

Tabu satuntuang masuk garaman gajah
Manembak buruang jo mariam
Mancukie kuman jo alu
Mancari kutu dalam ijuak
Mancari jajak dalam aie
Bak manggantang anak ayam
Bak manyukek baluik hiduik
Bak mancari pinjaik dalam lunau

Mamakiak ka langik hijau
Nan hilang indak kabasuo
Abih minyak sapasu
Ikue anjiang indak kaluruih

Maandok di baliak lumbuang
Basambunyi tampak pungguang
Maandok di baliak ilalang salai

Bak balacan dikarek duo
Nan pai busuak
Nan tingga anyie

Lai ketek taranjo-ranjo
Lah gadang tabao-bao
Sampai tuo taubah indak
Sampai mati jadi parangai

Sabusuak-busuak dagiang
Dikunyah dimakan juo
Saharum-harum tulang
Dibuangkan sajo

Sarueh tabu dek ulek
Kasabatangannyo dibuangkan

Oleh : A.B. Dt. Majo Indo
Disadur dari buku "Kato Pusako"

Tujuan Hiduik

Pulai batingkek naiak
Maninggikan rueh jo buku
Manusia bapangkek turun
Maninggakan adaik jo limbago

Hiduik balingkuang adaik
Mati balingkuang tanah
Hiduik untuak mati
Dunie untuak akiraik

Hiduik baraka
Mati bariman
Hiduik bakarilaan
Mati batungkek budi

Gadjah mati maninggakan gadiang
Harimau mati maninggakan balang
Manusia mati maninggakan jaso

Dari rumbai ka mandahiliang
Sungai rokan aie nya tanang
Disamai baniah sakatidiang
Hasia padinyo sarangkiang

Bumi sanang padi manjadi
Padi diladang lah manguniang
Padi disawah alah masak pulo
Rangkiang panuah dek isinyo

Katapi bagantang urai
Katangah bagantang pudi
Bapak kayo mande batuah
Mamak disambah urang pulo

Bulek aie dek pambuluah
Bulek kato dek mupakaik
Aie batitisan batuang
Manusia batitisan bana

Manusia tahan kieh
Binantang tahan palu
Hiduik tampek basudah
Mati tampek bakubue

Kalabihan manusia duobaleh macam
Partamo suko maagiah makan isi nagari
Kaduo kasiah pado nan baiak banci ka nan jahek
Katigo banyak baharato bando
Kaampek banyak ilmu pangajaran
Kalimo suko hati ka urang banyak
Kaanam banyak usaho jo karajo
Katujuah indak suko jo ka upek puji
Kasalapan pangasiah panyayang pado manusia
Kasambilan pasiah lidah
Kasapuluah pandai bicaro
Kasabaleh tahu di nan bana
Kaduo baleh mangarati jo kato kiasan

Pitaruah Parpatiah nan Sabatang salapan macam
Partamo kasiah jo cinto ka nagari
Kaduo kasiah pado isi nagari
Katigo suko kapado urang barado
Kaampek kasiah kapado urang tuo tuo
Kalimo kasiah pado urang cadiak pandai
Kaanam kasiah pado pamimpin
Katujuah kasiah pado panghulu nan bana
Kasalapan kasiah pado pandapek urang

Mati batungkek budi
Hiduik bakarilaan
Ditimbang jo aka budi
Dipakai raso jo pareso
Ditimbang jo nyao badan

Oleh : A.B. Dt. Majo Indo
Disadur dari buku "Kato Pusako"